by

Memotong Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan: Ahmad Luthfi Garansi Anak Kurang Mampu di Jateng Tetap Sekolah

-Pendidikan-135 Views
banner 468x60

SEMARANG – Hari pertama masuk sekolah di Provinsi Jawa Tengah tahun ajaran 2026/2027 menjadi momen penuh haru sekaligus secercah harapan baru. Melalui Program Sekolah Kemitraan yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, ribuan anak dari keluarga kurang mampu kini bisa mengenakan seragam baru dan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK swasta secara gratis tanpa dipungut biaya operasional.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung meninjau hari pertama masuk sekolah sekaligus menyapa para siswa penerima manfaat di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Kota Semarang, Senin (13/7/2026). Langkah ini menjadi penegasan bahwa negara wajib hadir menjamin hak dasar pendidikan warganya di tengah impitan ekonomi.

banner 336x280

Kisah Haru Anak Driver Ojol Hingga Buruh Tani yang Nyaris Putus Sekolah

Di balik riuhnya hari pertama sekolah, terselip kisah-kisah perjuangan anak-anak pinggiran yang nyaris kehilangan masa depan. Salah satunya adalah Rafa Fidianto, seorang putra pengemudi ojek daring yang sempat terlempar dari persaingan penerimaan siswa baru di sekolah negeri karena kendala nilai akademis. Melalui program kemitraan ini, asa Rafa kembali hidup setelah dinyatakan lolos di SMA Laboratorium UPGRIS.

“Saya sempat daftar ke sekolah negeri, tetapi nilainya belum cukup. Sekarang saya senang sekali bisa sekolah di sini dan punya banyak teman,” ungkap Rafa dengan mata berbinar. Anak pertama dari dua bersaudara ini memendam cita-cita mulia untuk menjadi prajurit TNI demi mengangkat derajat orang tuanya.

Kisah pemantik air mata juga datang dari seorang siswa anak buruh tani berpendapatan Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari. Hidup tanpa sosok ayah, sang ibu mengaku nyaris menyerah untuk membiayai sekolah anak ketiganya sebelum program pemerintah ini datang menyelamatkan mereka.

Mendengar langsung ratapan hati para orang tua dan siswa, Ahmad Luthfi yang memimpin Jawa Tengah bersama Wagub Taj Yasin, menegaskan dengan suara lantang bahwa kondisi kemiskinan struktural sama sekali tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi anak-anak untuk meraih mimpi setinggi langit.

“Boleh kita punya sekolah yang berbeda. Boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat! Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” tegas Ahmad Luthfi membakar semangat para siswa.

Kuota Melonjak, Rangkul 139 Sekolah Swasta se-Jateng

Program Sekolah Kemitraan merupakan strategi taktis Pemprov Jateng untuk menampung anak-anak dari klaster kemiskinan yang tidak terakomodasi di sekolah negeri akibat keterbatasan daya tampung maupun kendala sistem zonasi.

Pada Tahun Ajaran 2026/2027, skala program ini diperluas secara signifikan dengan menggandeng 139 institusi sekolah swasta (56 SMA dan 83 SMK). Total serapan siswa miskin melonjak tajam menjadi 3.663 siswa (1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK), naik drastis dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di angka .2.390 anak.

Khusus yurisdiksi Kota Semarang, sebanyak 51 siswa ditampung lewat skema ini yang tersebar di SMA Lab UPGRIS (24 siswa), SMK Bina Nusantara (21 siswa), dan SMK Ibu Kartini (6 siswa). Tak hanya pembebasan biaya pendidikan, sebanyak 55 siswa di lokasi juga dipersenjatai dengan bantuan perlengkapan sekolah serta sepatu baru, ditunjang dengan penyaluran paket sembako dari Baznas Jateng untuk para orang tua murid.

Instruksi Tegas: MPLS Harus Ramah, Haram Ada Perpeloncoan!

Menutup kunjungan kerjanya, mantan Kapolda Jateng ini memberikan instruksi bernada keras kepada seluruh kepala sekolah, komite, dan dewan guru di Jawa Tengah terkait pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026. Ia melarang keras segala bentuk tindakan represif dan intimidasi senioritas yang dapat mencederai psikologis mental anak didik.

“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan (bullying), apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak boleh menakutkan, tetapi harus menjadi tempat ekosistem yang menyenangkan dan ramah anak sehingga mereka merasa nyaman belajar,” instruksinya secara rigid.

Pemerintah optimistis, pembiayaan penuh sekolah swasta bagi kaum papa ini akan menjadi motor penggerak utama dalam memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi di Jawa Tengah, sekaligus mencetak SDM unggul menuju Indonesia Emas.

banner 336x280

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *